| Perhimpunan Solidaritas Buruh |
|
|
|
Sejarah Berdiri Bermula dari sekelompok aktivis buruh yang konsen terhadap hak-hak kaum buruh dan issu-issu perburuhan yang secara terus-menerus mendiskusikan kondisi sosial-ekonomi masyarakat pada umumnya sangat memprihatinkan, terutama golongan masyarakat bawah yang termiskinkan secara struktural sebagian besar adalah buruh, buruh tani maupun sektor informal. Mereka tidak berdaya karena belum adanya organisasi serikat di kalangan mereka sendiri yang kuat, independen dan berani memperjuangkan kesejahteraan hidupnya. Bagi kaum buruh, hal ini menjadikan mereka mengalami ketidakpastian kerja di bawah ancaman PHK. Sementara sektor informal tidak dapat kesempatan berusaha dengan tenang karena ancaman penggusuran. Di sisi lain, gerakan oposisi demokratik yang belum meluas dan masif di tengah masyarakat untuk melawan kekuasaan rezim represif Orde Baru, harus didorong lewat gerakan perlawanan rakyat dari berbagai kelompok maupun sektor-sektor masyarakat. Berdasarkan analisa di atas, maka pada tanggal 1 Juli 1996 para aktivis buruh mendeklarasikan berdirinya Solidaritas Buruh (SB) sebagai cikal bakal Perhimpunan Solidaritas Buruh (PSB) yang disertifikasikan perubahannya pada tanggal 7 September 2004 dengan akta NO.17 di depan Notaris M. Yusuf Anwar, SH. dengan visi Terciptanya serikat buruh yang tangguh menuju masyarakat yang kuat dan sejahtera, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai: Keadilan, Solidaritas, Terbuka, Independen, Egaliter, Kesetaraan dan Keadilan Gender, Kelestarian Lingkungan Hidup, Profesional. Adapun misi yang dilaksanakan adalah: advokasi kebijakan dan hak-hak kaum buruh di dalam hubungan pekerjaan; advokasi (kebijakan perburuhan, hak buruh), pendidikan (pengorganisiran, berorganisasi, hak-hak buruh, kebijakan perburuhan), kajian dan penelitian perburuhan serta pemberdayaan ekonomi buruh dan komunitas. Strategi Untuk menjalankan misi organisasi, PSB menggunakan strategi pengorganisiran sektoral dan pengorganisiran berbasis komunitas. Sedangkan setrategi kerjanya menempatkan organiser di sektor maupun di komunitas. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan dan terus dikembangkan sampai pada persoalan-persoalan buruh perempuan dan anak; advokasi hak kaum buruh dan keluarga atas akses kesehatan dan pendidikan yang terjangkau; penguatan kapasitas kelembagaan serikat buruh; pelatihan oraganizer buruh; penelitian perburuhan dan penerbitan tulisan tentang issu perburuhan; penerbitan bulletin Solidaritas; serta pemberdayaan ekonomi rumah tangga buruh korban PHK dan komunitas buruh. Berangkat dari pengalaman kebencanaan di beberapa tempat, PSB menjalankan aktivitas tanggap darurat, pengurangan resiko bencana dengan memakai strategi pengorganisiran berbasis komunitas tesebut. Aktivitas sektor Sampai saat ini PSB terus mendorong terbangunnya jaringan serikat-serikat buruh yang tersebar di berbagai daerah, diantaranya: PERBBUNI di Sumatera Utara, SBSS di Sumatera Selatan, Solidaritas Buruh Lampung (SBL), Solidaritas Buruh Kota Bogor (SBKB), Serikat Buruh Tiga Daerah (SB3D) Tegal-Pekalongan-Batang, PSB wilayah kerja Semarang dan sekitarnya, Serikat Buruh Garmen Ungaran (SBGU), Federasi Aliansi Buruh Magelang (F.ALBUM)-Magelang dan sekitarnya, KP. Federasi Solidaritas Buruh Independen Indonesia (KP. SBII)–Yogayakarta dan sekitarnya, Aliansi Pekerja Sejahtera Malang (APSM)–Malang dan sekitarnya, Solidaritas Buruh Surabaya (SBS)-Surabaya dan sekitarnya, Solidaritas Buruh Situbondo, KP. Serbu Jatim–Jawa Timur, Serikat Pekerja Sumbawa–NTB, Serikat Pekerja Mandiri Manggarai–NTT. Aktivitas Penanganan Bencana Dalam aktivitas penanganan pasca bencana PSB berhasil mendorong terbentuknya organisasi berbasis komunitas, yaitu FoRKoB (Forum Rakyat Korban Bencana) yang juga didorong berjejaring dengan jaringan serikat buruh dan organisasi-organisasi komunitas yang akan dibentuk. Pengalaman PSB dalam hal penanganan bencana, di antaranya bekerja sama dengan GTz–GLG, melalui program Community Action Plan (CAP); yang mengembangkan kapasitas komunitas dalam perencanaan partisipatif di berbagai bidang seperti; infrastruktur, ekonomi, kesehatan, kebencanaan. Realisasi dari perencanaan tersebut, baru untuk infrastruktur. Dalam pelaksanaannya, dilakukan secara partisipatif dan gotong-royong dengan mengedepankan aspek-aspek pengurangan resiko bencana. Bekerjasama dengan Ford Foundation, PSB menjalankan program Intergratif Rekontruksi Pasca Bencana berbasis komunitas. PSB membuat program perbaikan dan melengkapi rumah korban gempa dengan model dana berputar yang dikelola oleh masyarakat. PSB bekerjasama dengan AusAid-RHK melakukan monitoring dan evaluasi program Quick Impact Livelihoods dengan mengembangkan monitoring berbasis komunitas/Community Base Monitoring. Program Livelihoods & Advocacy Penanganan Pasca Bencana kerjasama DnP-PSB, dilakukan di 10 dusun yang tersebar di tiga kecamatan wilayah Kabupaten Bantul. GTZ-GLG memilih person dari PSB untuk menjadi konsultan bagi pelaksanaan program Community Action Planning (CAP) tingkat kelurahan di desa Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul. Proyek ini merupakan pilot proyek untuk program CAP-GTZ GLG, karena selama ini program tersebut hanya dilakukan pada tingkat dusun. |


