Berita Terbaru
RSS
21 May 2012
Strategi Lintas Sektoral Massa Berlawan PDF Cetak
Senin, 08 Oktober 2007 23:01

Arah revolusi demokratik di Indonesia berlandas tiga pokok. Peningkatan kekuatan produksi; transfer atau perebutan pemilikan alat produksi; dan peningkatan kesadaran massa rakyat. Di saat kesadaran rata-rata massa masih berupa kesadaran reformis —ekonomis— tentu diperlukan pengayaan strategi taktik (stratak) yang tepat dan kreatif. Pertanyaannya, sesuai pengalaman praktik perjuangan kita, bagaimana memajukan kesadaran reformis menjadi tindakan politik?

Sebagai batu lompatan sementara, program-program reformisme acapkali justru berlangsung lama. Memang tidak perlu ditunggu, tapi sedari awal tuntutan reformis itu juga diisi oleh ‘pengertian sejati’ sebagaimana penyelesaian revolusioner. Massa yang sedang dan akan berlawan harus (diberi) tahu bahwa jalan ke luar sejatinya bukan seperti itu. Mengumpulkan rentetan kemenangan kecil diupayakan sedini mungkin agar tercukupi syarat-syarat revolusi demokratik.

Pepatah lama “Aksi Kecil, Hasil!” nyatanya sekarang ini telah berupa aksi-aksi massa sektoral —besar dari jumlah massanya— terjadi di banyak daerah, dan isu tuntutan pun beragam. Wadah berorganisasi rakyat terus diperbanyak dengan mendekatkan langsung atas kepentingan masyarakat. Umpamanya, mendirikan Posko Pembelaan Buruh & Keluarganya di kampung dan desa pinggiran. Atau, menyimak pengalaman di Jakarta, Serikat Rakyat Miskin Kota (SRMK) merintis Posko di 86 RT yang tersebar di 16 kelurahan pada 11 kecamatan.

Hak-hak dasar rakyat (program normatif) senantiasa digali, dan terus diusahakan dimenangkan agar rakyat memiliki kepercayaan terhadap kekuatannya sendiri. Mengusahakan capaian ini dapat dilakukan lewat penjadwalan stratak 3 bulanan, sebagai metode organisasi dalam mengurus pekerjaan politik. Yakni, membentuk kompartemen kerja (bagian khusus di antara yang lain yang saling terkait) dari seluruh tugas organisasi. Dengan tahapan antara lain:

Investigasi/penyelidikan (porsi 10 persen, atau 9 hari)

Sasarannya di daerah perluasan geopolitik. Penyelidikan sosial dimaksud mendaftar keinginan, kebutuhan, pemahaman, dan kesiapan perjuangan rakyat. Biasanya banyak hal negatif kita peroleh (ada yang ragu-ragu, takut, malas berjuang, dll.) sebagai wujud khas kesadaran reformis. Cara penyelidikan beragam, a.l.: (1) Angket, (2). Ditanyakan langsung, (3). Laporan organiser, dan (4). Kesimpulan hasil penyelidikan.

Agitasi Propaganda/penyadaran (porsi 75 persen, atau 60 hari)

Penyadaran tuntutan. Kepada khalayak massa tetapi agar dapat dimengerti dan diikuti oleh unsur termajunya. Tuntutan atas pelbagai persoalan paling mendesak yang sedang dihadapi massa. Akar persoalan dijelaskan gamblang, Jangan menyampaikan solusi reformis. Contohnya, soal biaya sekolah bukanlah akibat kurangnya anggaran pendidikan. Tetapi oleh sebab bekerjanya sistim kapitalisme

Penyadaran cara berjuang secara radikal. Melawan bukanlah naluriah (instink) tetapi kesadaran sosial —yang bahkan, perlu dorongan organiser (para aktivis sebagai kelas di luar) untuk mengubah situasi. Dari situasi diam menjadi gerak, dari satu menjadi banyak, dari takut menjadi berani, dari sektoral ke lintas sektoral, dari satu daerah ke banyak daerah, dst, dst. Perjuangan rakyat mengandung ‘isi revolusioner’ jika (1). secara ekonomi bisa menang, dan (2). secara politik menjadi sadar akan kekuatannya sendiri. Aksi massa sebagai metode/tindakan proletariat harus berkesinambungan (simultan), sehingga rakyat tak hanya tau haknya tapi sadar bahwa berjuang harus diarahkan ke tingkat revolusi.

Alat-alatnya. Pertama, pemahaman/kognitif (kursus politik; diskusi; bacaan; seminar; pelatihan; dan rapat akbar dari tingkat wilayah sampai tingkat RT sekalipun agar sedekat mungkin mewadahi kepentingan rakyat). Kedua, tindakan (dari aksi massa sektoral ke lintas sektoral).

Mobilisasi (porsi 15 persen, atau 21 hari)

Penilaian atas kerja agit-prop (pendidikan/penyadaran) sampai pada proses membuat daftar siapa dan berapa jumlah calon peserta aksi. Ada lembaran list tanda tangan kesediaan ikut aksi yang diedarkan panitia aksi. Kepanitiaan ini selengkap dan serinci mungkin tugasnya (korlap, juru bicara pers, negosiator, keamanan, logistik, P3K, kurir, urusan kendaraan, soundsistem, dan sarana kampanye seperti spanduk, poster, selebaran, yel-yel/slogan, rilis wartawan, dll).

Tugas Mendesak Secara Berkelanjutan

Kompartemen kerja organisasi menghimpun perwakilan organiser setiap sektor. Beberapa organiser dan aktivis lintas sektoral ini mengadakan pertemuan berkala, yang disebut Konferensi Stratak, untuk mengatasi hambatan dan rintangan perjuangan. Mengagendakan 3 tahapan, yakni:

Persatuan. Perlu kiranya ada penekun luwes berkeliling menawarkan agenda ini. Semacam ‘Petugas Front’ (united front) yang membuat jejaring gerakan lebih luas dan partisipatif, hingga mampu menghimpun segala sumberdaya. Egoisme sektoral harus dibuang demi saling berbagi kerjasama. Tawaran program pengorganisasian bersama 3 bulan; atau penggabungan massa saat aksi di tahap terakhir; atau mengikuti aksi dan program/kegiatan dari sektor lain; dll.

Perluasan. Diarahkan terencana untuk perluasan struktur dan dukungan massa, baik di tingkat basis komunitas, sektor kelas sosialnya, maupun isu persoalan yang timbul. Tugasnya mendatangi daerah lain atau kelompok lain. Kalau diumpamakan Petugas Front mengadakan deal (kesepakatan) ke kontak relasi, maka berikutnya ‘Petugas Perluasan’ yang menindaklanjuti. Jika dilihat menurut lingkaran diagram, antara persatuan dan perluasan bisa saling beririsan. Perluasan adalah dialektika basis (daerah) lama dan basis baru. Karenanya mengenali karakter massa menjadi kuncinya.

Dana Juang Bersama. Selain penggalangan dana dengan mitra luar (misal, lembaga donor), juga mesti dilakukan dengan menggali sumber dana internal (misal, iuran bulanan).

Ketiga tahapan ini saling diupayakan dan dikoordinasikan terus menerus, melalui semacam ‘komite bersama’, sebagai lembaga tambahan di dalam organisasi, yang merupakan lembaga gabungan sektor, yang disebut kompartemen.

Selanjutnya, kompartemen kerja dapat dirinci sesuai kebutuhan dan persoalan yang berkembang. Beberapa diantaranya mencakup (1). Pendidikan kader; guna mempertinggi pemahaman dan ketrampilan hingga pendelegasian wewenang bisa meluas, (2). Badan Urusan Kontradiksi/BUK; mengatasi terjadinya konflik sesama anggota, (3). Unit usaha; menggali dana juang organisasi, (4). Manajemen; merumuskan rentang kendali seluruh proses kerja, (5). Strukturisasi; menetapkan taktik persatuan dan perluasan, dan (6). Konferensi stratak secara berkala.

Diringkas dari tulisan dan hasil fasilitasi diskusi bersama Danial Indrakusuma, salah seorang pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD).

 
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com