| Revitalisasi dan Reaktualisasi Gerakan Buruh |
|
|
| Minggu, 10 April 2011 14:27 |
|
Dalam situasi ini, maka layak dipertanyakan dimana peran negara? Negara modern lahir dari revolusi Perancis 1789 yang merupakan gerakan kaum Jacobin atau kelas borjuis melawan kelas feodal. Kaum borjuis menggunakan buruh hanya untuk kepentingannya berkuasa dan melakukan akumulasi modal. Setelah mereka berkuasa, kaum borjuis menindas kelas buruh dengan penghisapan dalam hubungan produksi yang bersifat kapitalistik. Seperti inilah wajah Negara sejatinya, dimana Negara telah disandera oleh bandit-bandit Negara. Buruh yang merupakan bagian besar massa rakyat, semakin menderita dalam sistem kapitalisme. Mereka terus dihisap dan ditindas untuk ambisi segelintir kelompok dalam memuaskan hawa nafsu mereka mencari keuntungan sebesar-besarnya . Upah buruh terus ditekan jauh dari kata hidup layak. Bandingkan dengan gaji para pejabat dan tunjangan elite-elite politik yang begitu mewah. Setiap tanggal 1 Mei, dirayakan sebagai hari buruh sedunia yang lebih populer dengan sebutan May Day. Dalam sejarahnya May Day dirayakan pertama kali 1 Mei 1886 di Amerika Serikat dan Kanada dengan tuntutan ‘eight hour day’. Kemudian May Day dalam konteks ruang dan waktu menjadi tonggak perjuangan kelas buruh dan kelompok rakyat progresif untuk melawan penindasan struktural dan kebudayaan bisu (culture silence) yang dilakukan oleh kelas berkuasa. May Day menjadi simbol untuk mendekonstruksi tatanan masyarakat yang bersifat menindas. Dalam peringatan hari buruh sedunia, maka gerakan buruh harus segera melakukan revitalisasi dan reaktualisasi. Revitalisasi gerakan buruh adalah usaha untuk menguatkan kembali gerakan buruh melalui penyolidan gerakan buruh dan penguatan karakter ideologi bersama. Ego sektoral harus segera dikesampingkan. Gerakan buruh tidak hanya menjadi milik inklusif kalangan buruh, yang lebih dipersempit menjadi buruh pabrikan. Prinsip unityekstensifikasi gerakan menjadi sangat dibutuhkan dalam meraih kemenangan. Gerakan buruh harus digerakan menjadi gerakan rakyat progresif menuntut kesejahteraan bersama. Gerakan ini harus melibatkan kelompok lain di luar buruh pabrik seperti kalangan mahasiswa, buruh kerah putih (white colour), kelompok minoritas, kelompok religious dll. Persatuan dan kesatuan gerakan buruh dengan elemen lain, akan menyebabkan sebuah gelombang besar dalam melakukan transformasi di masyarakat. Penguatan ideologi merupakan upaya militansi buruh dalam meniti perjuangannnya. Ideologi merupakan struktur atas yang dipengaruhi oleh basis struktur dalam pertentangan kelas di bidang ekonomi. Maka ideology menjadi alat dan cerminan perjuangan kelas buruh. Tanpa penguatan ideologi, maka gerakan buruh mudah terpecah belah atau dipecah belah demi kepentingan pribadi atau sektoral. Pola reaktualisasi gerakan buruh harus mendorong gerakan pada konteks kontemporer. Pengorganisasian gerakan harus mengaktualisasikan metode gerakan. Kapitalisme yang melakukan tindakan hegemoni pada semua lini harus dilakukan perang terhadap semua lini. Gerakan buruh harus merumuskan cara hidup humanisme yang merupakan kontradiksi dari gaya hidup kapitalisme yang bersifat konsumtif. Nilai-nilai kebersamaan, kesederhanaan dan peduli lingkungan harus menjadi agenda gerkan hidup yang ditawarkan kelas buruh. Hal ini juga yang akan mempertemukan gerakan kelas buruh dengan kelompok progresif lain baik itu kelompok lingkungan, kelompok religious dan kelompok pejuang HAM. Maka semboyan pun harus “Progresive class all countries, unite!”. Aditya Nugraha Iskandar, Penulis adalah Ketua Bagian PTKP HMI Cabang Bulak Sumur dan Direktur Iskandar Center. |



