Berita Terbaru
RSS
21 May 2012
Pemanasan Global, Siapa Tanggungjawab? PDF Cetak
Jumat, 11 Januari 2008 01:41

Pemanasan global sudah tidak asing lagi dibicarakan orang. Sejumlah kalangan begitu gigih mempersoalkan peningkatan suhu permukaan bumi yang berakibat perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut secara melamban. Ketika temperatur atmosfer menghangat, lapisan muka laut juga segera menghangat sehingga volume air semakin membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Penyebab pemanasan global tidak lain berasal dari efek rumah kaca (greenhouse effect).

Seharusnya energi matahari yang masuk ke bumi yang diabsorbsi dipantulkan kembali dalam radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun saat akan dikembalikan lagi sebagian besar infra merah yang dipancarkan bumi ini terperangkap oleh awan, gas CO2 dan gas rumah kaca. Seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO), nitrogen dioksida (NO2), gas metana (CH4), Khlorofluoro karbon (CFC). Untuk CFC banyak terkandung pada kulkas, AC, dll.

Saat sekarang saja kita sudah merasakan betapa panasnya planet tempat tinggal kita ini. Perubahan iklim akibat pemanasan global bukan saja berdampak negatif terhadap ekosistem, melainkan juga langsung mempengaruhi sosial-ekonomi dan kesehatan penduduk bumi. Semisal terhadap pertanian. Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa bumi yang hangat dapat menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya. Tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian selatan Kanada, contohnya, mungkin akan memperoleh keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam.

Di lain pihak, lahan pertanian tropis semikering di pelbagai wilayah daratan Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Kawasan areal pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpacc (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat. Dalam hal ini para petani dipermainkan pancaroba musim sehingga hasil panen dapat sewaktu-waktu terancam gagal.

Pemanasan global juga berdampak terhadap hewan dan tumbuhan. Hewan dan tumbuhan menjadi mahkluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini mengingat sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Hewan cenderung bermigrasi ke arah kutub mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Sedangkan tumbuhan mengubah arah pertumbuhannya. Namun menghadapi skala kepadatan pembangunan oleh manusia yang semakin massif dan intensif ini, beberapa spesies yang bermigrasi ke utara dan selatan terhalang perkotaan dan lahan-lahan pertanian mungkin akan menyusut.

Bagi kesehatan manusia, mungkin akan lebih banyak orang terkena penyakit atau meninggal akibat stres oleh tekanan panas udara bumi. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainya akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Penyakit-penyakit tropis lainya juga dapat menebar seperti malaria, demam dengue, demam kuning dan encephalitis. Banyak para ilmuwan memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan.

Dalam laporan yang dikeluarkan tahun 2001, Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat celcius (1 derajat fahrenhait) sejak 1862. Panel menyetujui bahwa pemanasan tersebut disebabkan oleh aktivitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walau saat ini sudah dirasakan perubahan iklim tidak menentu, kita akan menghadapi ini dengan resiko populasi yang sangat besar.

Kerjasama internasional diperlukan guna mencegah dan mengurangi gas-gas rumah kaca. Pada tahun 1997 di Jepang berkumpul 160 negara merumuskan persetujuan yang dikenal dengan Protokol Kyoto. Protokol ini sekaligus merupakan dokumen amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim Cuaca (UNFCC) yang menyerukan kepada 38 negara industri yang memegang persentase paling besar di dalam membuang gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990.

Pada tahun 2005, ada 141 negara meratifikasi Protokol tersebut. Tetapi ada beberapa negara yang menandatangani namun belum meratifikasi Protokol. Salah satunya Amerika Serikat yang tidak berminat untuk meratifikasi padahal kita tahu bahwa Amerika Serikat adalah negara pengeluar terbesar gas rumah kaca, kenapa bisa tidak bertanggungjawab?

Penentang Protokol Kyoto ini memiliki posisi sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di AS terutama dipelopori kalangan industri minyak, industri batu bara dan perusahaan lain yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil. Belum lama juga diselenggarakan Konferensi internasional di Denpasar, Bali yang membahas perubahan iklim di bumi ini sebagai kelanjutan Protokol Kyoto. Tak hanya di forum Protokol Kyoto, saat Konferensi di Bali juga masih ditandai pro dan kontra antarnegara.

Sebagai makhluk yang menguasai bumi, seharusnya kita sadar betapa pentingnya pelestarian kehidupan bumi ini tanpa harus mempercepat kehancurannya melalui pemanasan global. Sejauh ini daya upaya yang dilakukan dan diskusi yang tengah berjalan belum sampai berhasil mencegah pemanasan global di masa depan. Sebuah tantangan bagi kita untuk mengatasi efek-efek yang timbul sambil melakukan langkah pencegahan dan pengurangan resiko iklim di masa depan.

Paling tidak kita dapat mengurangi produksi gas rumah kaca dengan melakukan penghijauan, menghentikan penggunaan bahan-bahan penyembur seperti deodoran spray, semprotan pembunuh nyamuk dan serangga, pengering rambut (hairdryer), penyemprot parfum, dan lainnya yang menggunakan konsumsi gas CFC. Di masyarakat umum perlu kampanye dan pendidikan secara terus menerus mengenai penggunaan CFC dan hubungannya terhadap lingkungan alam sekitar. Sumbangan dan inisiatif dari negara-negara besar harus dipergiat lagi guna menemukan teknologi yang lebih canggih dan praktikal dalam mengatasi kesan-kesan dari CFC. Dengan begitu kita ikut bertanggung jawab atas bumi ini.

Sumaryani, mahasiswa Fakultas Sains & Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com