Berita Terbaru
RSS
16 Apr 2014
Krisis Global dan Reformasi Semu Kapitalisme PDF Cetak
Sabtu, 14 May 2011 09:35

Setelah kerontokan ekonomi global melalui gelombang krisis yang terjadi di penghujung tahun 2008 lalu, berbagai pola dan cara tengah dirancang oleh Negara-negara Imperialis untuk keluar dari krisis tersebut. Mulai dari peguatan nilai tukar standar perdangan internasional, hingga reformasi forum/badan dan lembaga-lembaga keuangan internasional, dalam hal ini IMF, World Bank, WTO, dll.

Namun dibalik semua itu, kita tentu saja tidak boleh terjebak dengan topeng reformasi ini. Hal tersebut tidak lebih dari sandiwara Kapitalisme Global untuk kembali menipu dengan sejuta kepura-puraan. Pada akhirnya, toh Negara dunia ketigalah yang menjadi korban dan harus menanggung krisis ini, termasuk Indonesia sendiri.

Krisis yang melanda di penghujung tahun 2008 lalu, jelas merupakan buah pahit dari tatanan ekonomi kapitalisme yang tetap dipertahankan hingga saat ini. Kapitalisme sudah terbukti berkali-kali gagal untuk mensejahterakan masyarakat dunia, namun bagi lokomotif penggerak ideologi kapitalisme, ambruknya pasar bukanlah dinilai sebagai sebuah kegagalan. Akan tetapi sekedar kesalahan metode yang masih bisa diperbaiki dengan berbagai cara untuk mencapai kesempurnaan, meski harus dengan menebar teror kemiskinan dimana-mana.

Kita tentu masih ingat periode ke-emasan Negara kesejahteraan (welfare state), ambruk dan digantikan dengan pola ekonomi Neo-liberalisme di pertengahan tahun 80-an. Dan ini pula yang sedang dilakukan untuk mejawab krisis baru hari ini. Merubah seribu macam wajah untuk tetap selamat dari krisis. Namun sekali lagi, justru Negara dunia ketigalah yang menjadi tumbal dan dipaksa ikut untuk menanggung krisis tersebut. Logika sesat memang sedang berlaku, bahwa penyebab krisis adalah jantung kapitalisme sendiri, namun yang dibebankan untuk menjawab krisis, justru korban eksploitasi mereka selama ini, yakni negara-negara berkembang. Kapitalisme memang tidak pernah bertanggung jawab terhadap krisis yang dilahirkannya sendiri. Namun sebaliknya, kapitalisme justru dengan seenaknya mencari kambing hitam terhadap krisis tersebut, yang implikasinya semakin memiskinkan negara-negara dunia ketiga.

Reformasi Semu IMF

Salah satu wacana yang berkembang sejak krisis baru ini lahir, adalah keinginan untuk melakukan reformasi ditubuh International Monetary Fund (IMF), sebagai lembaga donor yang selama ini dipersonifikasikan sebagai Dewa penolong bagi Negara yang terkena krisis. Alih-alih menolong, IMF justru kian memperparah krisis dengan jeratan utang. Korea Selatan sendiri sebagai tuan rumah pertemuan G-20 tersebut, pernah mendapatkan pertolongan IMF disaat krisis yang terjadi pada dekade awal 90-an. Namun yang terjadi justru IMF semakin mengacaukan sistem perekonomian negara yang ditolongnya tersebut. Hal yang sama juga pernah dialami oleh Meksiko ditahun 80-an, Indonesia di akhir 90-an hingga 00-an, serta negara-negara lainnya.

Pada pertemuan puncak G-20 yang berlangsung di Seoul, Korea Selatan tersebut, topik reformasi IMF ini kembali menguat. Dimana sebanyak 6 persen quota suara akan dialihkan dari Eropa dan Amerika Serikat, ke negara berkembang, terutama Asia.  Pertanyaannya adalah, mengapa negara maju besikap lunak?. Hal tersebut merupakan upaya negara maju untuk menggandeng negara-negara berkembang, khususnya Asia dalam mengatasi krisis global bersama-sama. Namun prinsipnya, dominasi kekuatan didalam tubuh IMF, tetap menjadi milik negara maju sebagai mainstream utama yang sulit ditembus. Toh, 6 persen quata suara yang akan dialihkan tersebut, juga tidak memiliki arti apa-apa dibandingkan dengan mayoritas suara Negara maju didalamnya.

Maka sudah sangat jelaslah bahwa upaya reformasi ditubuh IMF, tidak lebih dari sebuah kepura-puraan semata. Reformasi ini merupakan bagian dari rencana negara maju untuk menarik perhatian negara berkembang, yang dibungkus dengan topeng demokrasi dan partisipasi yang lebih terbuka di dalam lembaga-lembaga keuangan internasional. Inilah salah satu strategi licik dari kapitalisme. Setiap krisis yang terjadi, selalu berusaha merubah wajahnya sebagai jalan keluar untuk menyelematkan diri dari kiris tersebut. Yang pasti, bahwa cara apapun yang digunakan untuk keluar dari krisis, sejatinya tetap akan melahirkan krisis baru, yang mungkin jauh lebih parah. Ini terbukti dengan periodesasi kapitalisme sejak perang dunia pertama hingga hari ini.

Herdiansyah Hamzah, Mahasiswa Pascasarjana Magister Ilmu Hukum UGM dan Anggota Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) Yogyakarta.

 
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com