| Bencana dan Keangkuhan Teknologi |
|
|
| Rabu, 16 Maret 2011 11:11 |
|
Satu Alasan Untuk Menolak Penggunaan Enerji Nuklir Gempa bumi 9 skala richter yang melanda Jepang, bukan saja memicu tsunami yang meluluhlantakkan kota Sendai, tapi juga memantik ledakan reaktor nuklir PLTN yang radiasinya mengancam hingga ke Tokyo. Ledakan reaktor nuklir ini tak pelak menjadikan banyak pemimpin dunia khawatir, ingatan terhadap bencana ledakan serupa di Chernobyl pada 1986 silam langsung membayang dipelupuk mata. Maka tidak mengherankan jika kemudian 106 negara berencana untuk menghentikan dan mengevaluasi proyek PLTN di Negara masing-masing. Namun anehnya, Indonesia dengan sangat percaya diri justru maju terus untuk merealisasikan pembangunan PLTN di Bangka. Kepala BPPT, Marzan A Iskandar, memastikan bahwa rencana itu akan jalan terus. Ironisnya pertimbangan yang mendasari ini hanyalah “amanat” kebijakan pemerintah yang tertuang dalam PP No. 5/2006 yang menyebut bahwa pembangkit tenaga nuklir adalah enerji alternatif Indonesia pada tahun 2025. Tentu saja niat Indonesia untuk terus melenggang merealisasikan pembangunan PLTN ini melahirkan tanda Tanya besar. Terlebih secara geografis letak Indonesia juga tidak berbeda jauh dengan Jepang, yaitu sama-sama daerah yang rawan bencana gempa bumi karena dikelilingi oleh tiga lempeng dan dilingkari oleh sabuk gunung berapi (ring fire). Jadi potensi ancamannya kurang lebih sama. Nah, yang mengherankan, keunggulan teknologi nuklir yang seperti apa yang dimiliki Indonesia hingga tetap kukuh untuk mendirikan PLTN? Apakah teknologi nuklir yang dimiliki Indonesia jauh lebih unggul jika dibanding dengan yang dimiliki oleh Jepang dan Negara Eropa lainnya, yang kini sedang berencana untuk menghentikan dan mengevaluasi reaktor nuklirnya? Agaknya terlalu gegabah jika kita mempercayai asumsi itu, karena Indonesia belum pernah memiliki pengalaman mengelola reaktor nuklir. Sementara pada sisi lain, Negara-negara yang selama ini telah memiliki pengalaman untuk mengelola reaktor nuklir, dengan rendah hati memutuskan untuk menghentikan dan mengevaluasinya. Bencana meledaknya reaktor nuklir di Fukushima, mau tidak mau akhirnya menyentak kesadaran ahli nuklir dunia bahwa tidak selamanya teknologi dapat dipercaya kebenarannya. Dan ada satu faktor penting yang harus diperhitungkan, namun tidak mudah ditaklukan; yaitu bencana alam. Berkaca dari kenyataan itulah maka banyak Negara maju kini mulai mempertimbangkan kembali penggunaan enerji nuklir. Namun tidak demikian halnya dengan ahli nuklir Indonesia yang merasa dirinya paling mumpuni itu. Kepala Badan Pengembangan Teknologi Nuklir (Bapeten), As Latio Lasman, dengan angkuhnya menyatakan bahwa kejadian di Chernobyl dan Fukushima, tidak akan terjadi di Indonesia. Dipilihnya Bangka sebagai lokasi PLTN diyakini sebagai tempat yang tidak bakal mengalami gempa bumi atau tsunami. Tentu saja asumsi ini sangat sulit untuk dapat dibuktikan kebenarannya, sebab hingga kini tidak ada teknologi apapun yang dapat memprediksi atau mencegah terjadinya bencana gempa bumi. Maka pertanyaan kita selanjutnya, teknologi apa yang dimiliki Bapeten hingga bisa sedemikian yakinnya membuat pernyataan; bahwa Bangka tidak akan pernah mengalami gempa bumi dan tsunami? Inilah pertanda keangkuhan teknologi yang dikuasai oleh orang-orang bebal yang menganggap teknologi adalah segala-galanya serta sanggup menyelesaikan semua persoalan manusia. Padahal sesungguhnya alam telah mengajarkan banyak hal kepada kita yang mau berpikir. Bahwa kecanggihan teknologi yang ada hingga saat ini, tidak ada satupun yang sanggup menaklukan alam. Namun sayang, banyak diantara kita yang teramat bebal untuk dapat membaca gejala alam dan terlalu sombong untuk berkawan dengan alam. Maka untuk mengingatkan kebebalan dan kesombongan para ahli nuklir, kiranya tidak terlalu berlebihan andai kita menyerukan penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Litsrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Bangka. Karena manfaatnya tidak sebanding dengan ancaman resikonya. Sebagai gambaran bencana serupa yang terjadi di Chernobyl telah mengakibatkan wilayah terpapar radiasi radio aktif mencapai 7000 kilometer persegi dan dan tak kurang dari 200.000 orang menjadi korban radio aktif harus menjalani pengobatan. Sementara di Fukushima, dalam jarak radius 32 kilometer terpapar radiasi secara langsung, yang mengharuskan 110.000 warganya dievakuasi. Sementara emisi partikel radio aktifnya bisa terbawa oleh angin dan udara hingga radius ribuan kilometer. Nah bayangkan, jika itu terjadi di Bangka. Yulianto Sigit Wibowo. Peneliti lingkungan dan kebencanaan pada Perhimpunan Solidaritas Buruh (PSB). |


