Berita Terbaru
RSS
21 May 2012
Sulit Mengidolakan Capres, Pemilih Menggunakan Nalar Sehatnya Sendiri PDF Cetak
Jumat, 10 Juli 2009 23:04

Sebenarnya rakyat sudah bosan jadi ‘rakyat’. Saban pemilu sakit hati rasanya dikibuli janji melulu. Kampanye selalu bertabur pernyataan indah. Kosa kata rakyat diulang-ulang. Tapi, jangan salah, semua itu hanya angin surga dari mulut penguasa. Penguasa memang tak pernah bosan jadi penguasa. Pemilu sekadar persalinan kekuasaan yang dibidani oligarkhi politik. Ayah ibu telah mengenyam kuasa.  Nanti bergilir ke anak, keponakan, adik ipar, saudara sekandung, dan kerabat bakal mewarisi jabatan.

 

Mereka dipersiapkan menjadi pewaris ketua partai, berlaga di parlemen, dikarbit sebagai tokoh muda, dijejali fasilitas kuasa ekonomi dan akses politik ke daerah-daerah sampai ke pusat. Generasi kedua elite dibangun penuh patron. Tetapi, tidak semua kaum muda kita seberuntung Puan Maharani Soekarnoputri, Edi Baskoro Yudhoyono, atau menjadi adik dan kakak berpayung keluarga Jusuf Kalla seperti Aksa Mahmud dan Achmad Kalla.

Biang kuasa reformasi beranak-pinak sedarah daging tak ubahnya persis Soeharto merapatkan kroni Cendana di jaman Orde Baru. Meski Indonesia menandasi pemerintahan republik, tapi sejatinya ’urusan umum’ (res publica) itu hanya urusan keluarga batih. ”Saya buta politik tapi jadi jengkel jika melihat mereka saling berbagi sekeluarga mengurusi rakyat”, ketus Haryanto, pedagang angkring di dusun Jaban, desa Sinduharjo, kec. Ngaglik, Sleman.

Kalau toh rakyat dipaksa hirau mengikuti pemilu, segera biasanya bergumam pesta demokrasi ini tak menjamin terentasnya kesejahteraan di hari esuk. Sepulang dari bilik TPS, ya sudah, jalani saja rutinitas seperti biasa. Saat memilih anggota DPR/D pada 9 April lalu saking banyaknya nama caleg yang tidak dikenal, warga ogah repot pokoknya asal saja nyontreng.

Kini, bedanya dengan pilpres, wajah Megawati–Prabowo, atau SBY–Boediono, dan JK–Wiranto, sambil merem saja mudah dibayangkan. Megawati Soekarnoputri pernah menjadi Presiden RI ke 5 antara tahun 2001–2004. Sedangkan SBY dan JK masih menjabat Presiden dan Wakil Presiden, yang kian tak akur lantaran perang urat syaraf saling tantang pencapresan.

Pernah Dikecewakan, Pilihan Belum Pasti

Sosialisasi pemilu selalu diadakan. Berharap jumlah pemilih meningkat. Namun, begitu digelar, pemilu 9 April 2009 melenggang tanpa partisipasi pengawasan yang masif selayaknya pengalaman tahun 1999 dan 2004. Dugaan kecurangan muncul di tengah minusnya pemantau independen. ”Mungkin negara donor melihat Indonesia menuju stabilisasi politik di kawasan sehingga tak perlu membantu mengongkosi demokratisasi dengan mensponsori lembaga pemantau pemilu seperti periode dulu”, ujar Din Yati AR, Direktur YPB di Jogja.

Bukan kebetulan pula, timbul anggapan pemilu kali ini terburuk sepanjang reformasi. Menyusul sorotan sinis, segera KPU dan Depdagri pun saling lempar kewenangan soal data pemilih (DPT) dan kualitas panitia penyelenggara di tingkat bawah. Singkatnya, angka kumulatif golput meningkat tajam. Seolah justru menjadi pemenang. Tercatat jumlahnya mencapai 68.506.176. Partai Demokrat yang dinobatkan pemenang saja cuma dapat 20.551.853 suara. Bahkan gabungan suara 3 jawara parpol terbesar yang seluruhnya berjumlah 50.352.039, angka golput tak terkalahkan.

Pemilu legislatif usai. Caleg terpilih telah diumumkan oleh KPU. Di tengah persiapan menjadi legislator, mereka sebagian sibuk ke dalam rombongan kerja-kerja tim sukses kampanye capres. Konstituen loyal dipertahankan solid, sedangkan pemilih mengambang diperebutkan sengit oleh setiap penantang.  Menurut Sutrisno, petugas KPPS di kampung Sagan, Yogyakarta, berdasar pengamatannya rata-rata pemilih sudah punya bayangan siapa calonnya. Karena memilih capres tidak sesulit memilih caleg yang jumlahnya sangat banyak. Figur popularitas capres/cawapres juga mudah dikenali melalui beragam iklan politik.

Meski umumnya segmen pemilih stabil, dengan perkiraan kisaran 60 persen rata-rata pemilih di Indonesia telah mengantongi siapa kandidatnya, sebenarnya tingkat persaingan keterpilihan capres sangat dinamis. Polling, jajak pendapat, riset, dan banyak cara yang dilakukan oleh lembaga survei dan konsultan politik menggambarkan setiap kubu memiliki positioning yang jelas. Tapi, sudah diakui, sejatinya dalam urusan politik, apa yang tampak terang benderang, dapat saja berubah fluktuatif.

Trend psikologi pemilih memang rentan direcoki manuver kampanye. Urusan jadi lain, jika dibumbui rasa suka dan tidak suka terhadap sang capres/cawapres. ”Saya suka SBY tapi nggak yakin dengan Boediono. Jadi saya belum menetapkan pilihan pasti”, kata Nurleli Khasanah, ibu 2 anak di perumahan Purwomartani, Sleman, DIY. Sebaliknya, ”JK itu orangnya sudah tegas dan cepat ambil keputusan, namun sayang wakilnya kok militer bukan sipil ya?”, komentar bernada tanya Asriati, pedagang di terminal Magelang, Jawa Tengah.

Di mata pendukung, figur seperti Megawati sudah sangat dikenal. ”Mbak Mega itu naluri kenegarawanannya ada, tapi kalau disandingkan Prabowo yang bekas komandan tentara yang dibesarkan di lingkup Cendana dan sekarang banyak berbisnis di luar negeri menjadi kaya raya, program kampanyenya membuat saya bingung”, ketus Anang Wibawanto, bekas aktivis GMNI di Surabaya, yang ikut meramaikan saat aksi reformasi ’98.

Saat Memasuki TPS, ”Tau’ Ah Gelap”!

Kalau berharap nanti nyontreng saat pilpres 8 Juli, banyak orang awam merasa lebih suka menggampangkan tak mau ribet. Ini dialami kebanyakan pemilih pemula. Mereka adalah kelompok usia 17–23 tahun, dan ada di antaranya yang saat pileg April 2009 belum terdaftar, namun menjelang pilpres bulan Juli ini konon didaftar.  ”Kalau besuk milih presiden, saya belum bisa membayangkan karena teman-teman di sekolah milihnya macam-macam. Keluarga saya juga tak punya calon yang ajeg. Kalau datang ke TPS, entahlah nanti?”, cerita Stefanie Agata Hapsari, pelajar berseragam SMA Stella Duce I, yang dijumpai di sebuah toko buku di bilangan Jln. Jend. Sudirman, Yogyakarta.

Kisah Stefanie ini jamak dialami kawula muda pemilih perdana yang gamang. Bagi pelajar atau mahasiswa tingkat yunior, semua capres/cawapres mempunyai plus minus yang tak gampang diidolakan secara dadakan. Walaupun semuanya terkenal, tapi bobot kecenderungan dipilih agaknya relatif. ”Saya mengandalkan SMS terakhir entah dari siapapun yang mengirim pesan kepada saya menjelang hari H saat mau ke TPS”, ungkap Yoga Aditya, yang berpengalaman nyontreng sekali sewaktu pileg April lalu di sebuah TPS di kota Solo.

Kaum terpelajar pemilih, tak beda jauh dengan pemuda-pemudi seusianya di masyarakat. Menurut Asep Kurniawan, pemuda perantau asal Tasikmalaya yang ikut paman bekerja menawarkan kredit barang keperluan rumah tangga berkeliling ke desa-desa, yang tinggal mengontrak rumah di Turi, Sleman, DIY, tak peduli kampanye dan janji capres, tapi nanti asalkan nyontreng di bilik suara sudah merasa menunaikan haknya.

Seperti pemuda non sekolahan lainnya, yang berkecimpung beragam kegiatan usaha, entah berdagang, pengamen, penjaga toko, tukang bangunan, juru parkir, kernet, ojeg, sibuk bertani atau ternak, dan apapun jenis pekerjaan lainnya, kiranya sudah cukup kenal para tokoh capres dan wakilnya. ”Janji kampanyenya mirip semua, nggak usah dibikin repot, pokoknya tunggu tanggal main sajalah”, tandas Agung Priyantana, bekas sopir angkudes yang kini menekuni bisnis sebuah produk MLM di kec. Muntilan, Magelang, Jateng.

Tak hanya para pemuda, kebanyakan awam orang tua, menggantungkan pilihannya secara praktis nanti saat memang sudah dipanggil petugas KPPS. Masa kampanye belum menjamin siapa figur terpilih yang akan dicalonkan. Politik seolah ditentukan hingga sampai detik terakhir.  Begitulah nalar sehat pemilih awam. Suatu nalar politik yang beranjak dari pengalaman sederhana. Yang tersemai di tengah kelangkaan harapan atas perubahan. Di benaknya, siapapun Presiden RI ke 7 tak akan mengambil langkah terobosan radikal dalam pengentasan dan pembebasan nasib rakyat jelata.
 
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com