| Pendidikan dan Konsolidasi Teori Upaya Merekat Kerja Jaringan |
|
|
| Minggu, 14 Juni 2009 22:24 |
|
Beraktivitas di lapangan pemberdayaan tak ubahnya sekolah gerakan. Baik harafiah maupun arti sesungguhnya. Tapi celakanya, apa yang diinginkan Strategic Planning (SP) 2007-2009 lalu, sekolah itu tak dapat diujudkan menjadi forum pembelajaran tatap muka di kelas. Suatu kegiatan pendidikan bagi para pelatih (Training of Trainers), yang disingkat, ToT.
Menurut SP dua tahun silam, pendidikan ToT dilakukan sebelum dibentuknya Federasi SB.
Pembekalan bagi kader dimaksudkan memperdalam pemahaman dan ketrampilan teknis tentang ABC ekonomi politik perburuhan. Ini semacam konsolidasi teori, yang diharap ditularkan ke seluruh anggota SB. Pelatihan ini semestinya berbasis kebutuhan dasar setiap aktivis. Apalagi tuntutan terus berkembang seiring makin peliknya masalah hubungan industrial menyusul maraknya praktik outsourcing. Pendidikan yang pesertanya pengurus organisasi ini juga diinginkan agar terjadi standarisasi sehingga tidak menimbulkan ketimpangan pemahaman antarpengurus SB. Sebab salah satu kendala pengorganisasian lanjutan, menurut DPO Sektoral PSB, akibat belum munculnya para kader serikat. Alhasil, kepemimpinan kepengurusan Federasi SB sementara masih ditangani organiser. Sesuatu hal yang sebenarnya sudah harus diurus sendiri kawan-kawan aktivis serikat. SP periode 2009-2011 mengevalusi sejumlah hal. Bagaimana program pendidikan mampu dilaksanakan reguler, terukur, dan berlangsung merata di setiap SB anggota Federasi. Jika dahulu porsi muatan pendidikan lebih banyak menggali pengalaman penanganan kasus terbuka di perusahaan, sekarang ini mesti diperkaya pelbagai materi terkait hak buruh selaku warga negara. Baik hak ekonomi, sosial, budaya (ekosob), juga hak politik kewarganegaraan sebagai cara pandang mendekatkan kelas pekerja kepada proses-proses pengambilan kebijakan publik. Lalu, kini dirasa mendesak, ketersediaan modul pendidikan PSB yang lama diperbarui. Ada puluhan tema disorot dan direaktualisasi melalui seperangkat kajian hukum, ekonomi, dan politik. Narasumber yang kompeten pun akan dihadirkan guna memfasilitasi workshop penyusunan modul pendidikan. Mereka diundang pada sesi saling berbeda dihadapan peserta, dan tim perumus materi kurikulum akan menyajikannya menjadi buku panduan. Selanjutnya, kegiatan pendidikan diselenggarakan di beberapa kota jaringan PSB hingga memperoleh umpan balik. Melalui kegiatan inilah, kader tidak saja cakap pendampingan advokasi kasus, ia pun dituntut kepemimpinan berorganisasi, bernegosiasi, bekerja di aliansi, dan kreatif memobilisasi sumber-sumber daya dukungan. Timbulnya beragam soal kasuistik yang dialami di sana sini dicarikan pola pembanding agar pendidikan lebih solutif menjawab kebutuhan. Semisal, ”penyakit bawaan” buruh seperti ancaman PHK. Banyaknya buruh yang dirumahkan dan terkena PHK bukan cuma mengakibatkan bubarnya SB, tapi sekaligus juga memberi arena pengorganisasian baru di kalangan eks buruh. Ini menjadi stage point, batu loncatan, agar para kader segera masuk ke kalangan komunitas yang lebih luas.
Bubarnya SB-SB oleh faktor eksternal, misalnya PHK massal anggota akibat alasan krisis, di antaranya kasus Serikat Buruh Independen CV Elegant (SBIE) di Bantul dan Serikat Buruh PT Intech (SB Intech) di kota Semarang. Padahal mereka sudah berhimpun lebih luas ke dalam Federasi. SBIE masuk anggota Federasi Solidaritas Buruh Independen Indonesia (FSBII), sedangkan Serikat Buruh PT Intech (SB Intech) anggota Komite Persiapan Federasi Serikat Buruh Kota Semarang. Tapi sekarang, komite itu telah permanen menjadi Federasi Perserikatan Rakyat Pekerja Solidaritas Sejahtera (FPRPSS) Semarang. Di kedua SB di atas, praktis tidak menyisakan satupun anggota yang berserikat. Sebaliknya, terhadap kasus PHK yang menimpa sebagian anggota atau pengurus, tentu diperlukan penguatan melalui pengorganisasian ulang. ”Menyisir kembali barisan kedua selama kaderisasi tengah berlangsung agak lebih sulit karena ada bayangan traumatik”, ungkap Zuhdin, seorang organiser PSB di wilayah Temanggung. Pengalamannya saat pendampingan kasus PHK di Serikat Pekerja PT Trimegah Cipta Manunggal (SPTCM) mengendapkan banyak pelajaran yang dapat dikaji ulang memperkaya muatan silabus materi pendidikan ToT. ”Ketrampilan saja tak cukup tanpa kesabaran. Dua orang yang dulu masih bekerja ketika dihubungi menyatakan bersedia mendekati kawan lain untuk mengadakan pertemuan, tapi mereka tidak berjanji bisa menyelenggarakan pertemuan dalam waktu dekat ini.” Begitulah, memang. Banyak organiser seperti Zuhdin dihadapkan tantangan tak mudah. Praktik pengalaman konkret jauh melesat ketimbang apa yang sedang dikonsepsikan seseorang. Namun demikian, perjuangan memerlukan landasan konsepsi. Itulah guna pendidikan dalam organisasi gerakan. Ada pepatah, ”tiada perjuangan revolusioner tanpa teori revolusioner”. |


