| Ketika Mudik Menjadi Penting |
|
|
| Sabtu, 07 Agustus 2010 22:41 |
|
Mudik bukan sekadar mobilitas tahunan masyarakat kota untuk pergi ke desa, mengunjungi kerabat, sanak family dan sahabat di kampung halaman. Mudik bukan saja penempuhan perjalanan fisik, melainkan juga suatu perjalanan ruhani. Yaitu kembali ke daerah asal, untuk lebih memahami dan tidak melupakan asal usulnya. Karenanya mudik memiliki nilai spiritual tinggi. Mudik tidak bisa dipandang sederhana, dengan pernyataan bahwa mudik adalah perjalanan berpayah-payah yang menyiksa diri. Berdesak-desakan di dalam angkutan umum yang pengap, atau menahan letih dan kantuk dibalik kemudi. Bukan sekedar itu cara memahami mudik. Mudik bukanlah persoalan teknis transportasi, dan pemborosan uang. Pun bukan pula tentang terakumulasinya polusi kendaraan dalam jumlah besar, atau statistik tentang kecelakaan lalu lintas yang berbicara mengenai korban dan kerugian. Sekali lagi, mudik adalah adalah perjalanan ruhani yang dilakukan demi penebusan kepuasan batin. Seperti pendaki gunung yang terseok dimalam hari, meniti jalan terjal dan licin demi mencapai puncak. Dan ketika mencapai puncak, istirahat sejenak untuk kemudian bergegas turun. Mengabaikan penat. Selanjutnya mudik menjadi kebutuhan banyak orang, dan menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dari momen lebaran. Namun demikian memang tidak dapat disangkal, bahwa fenomena mudik ini akan merepotkan banyak pihak. Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik Lebaran tahun 2010 ini akan meningkat 12 hingga 15 persen. Angka pemudik tahun 2009 lalu berkisar antara 16 sampai 17 juta orang. Menurut penuturan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susanto, tahun ini jumlah pemudik akan mengalami peningkatan lebih dari 17 juta orang. Dan pemudik sepeda motor diperkirakan akan mendominasi jalur darat karena pertumbuhan sepeda motor di Indonesia meningkat pesat. Pilihan mudik menggunakan sepeda motor, memang pilihan yang paling beresiko. Tetapi ini merupakan pilihan paling rasional bagi sebagian masyarakat, karena tarif angkutan lebaran semakin mahal disamping faktor keterbatasan daya angkut angkutan umum itu sendiri. Sekalipun harus membahayakan keselamatan dan kesehatan diri sendiri berikut anggota keluarga, namun cara ini harus dilakukan. Mudik tetap dilakoni, sekalipun terpaksa harus menggunakan sepeda motor. Fenomena mudik dengan sepeda motor memang marak belakangan ini, seiring dengan semakin mahalnya BBM yang berimplikasi pada semakin mahalnya tarif angkutan umum. Tak jarang kita menjumpai sebuah sepeda motor yang dipaksa menanggung beban tiga orang dan setumpuk barang bawaan, melaju menempuh jarak ratusan kilo meter. Akhirnya mudik dengan sepeda motor menjadi trend masyarakat menengah bawah. Karena dengan mudik membawa sepeda motor sendiri, mobilitasnya di kampung halaman bisa berjalan lancar. Dia bisa berkunjung kemana saja, meneruskan jalinan silaturahmi untuk saling memohon maaf dan beruluk doa. Sekalipun trend mudik dengan sepeda motor membikin gusar pemerintah. Namun pemerintah tidak bisa melarang pemudik yang menggunakan sepeda motor, karena tidak ada kaidah hukum yang mengatur itu. Sebaliknya pemerintah memiliki kewajiban untuk menyiapkan sarana infrastruktur jalan yang nyaman dan aman serta menyediakan rest area bagi para pemudik secara umum dan pemudik bersepeda motor pada khususnya. Untungnya fenomena mudik ini bukan dianggap sebagai urusan pemerintah saja. Banyak perusahaan yang merasa terpanggil untuk turut mengurusi problem mudik ini, sekalipun sebenarnya mengusung kepentingan promosi dari perusahaan itu sendiri. Produsen otomotif, operator selular, serta pabrik minuman suplemen berlomba-lomba mendirikan pos peristirahatan di jalur mudik dengan berbagai fasilitas. Banyak pemudik yang merasa terbantu dengan keberadaan pos-pos peristirahatan ini. Menyikapi fenomena mudik ini, anggota Komisi V DPR, Marwan Ja’far, berharap perbaikan jalan sepanjang pantura Jawa dan lintas Sumatera yang banyak dilewati pemudik, agar sudah bisa selesai selambat-lambatnya seminggu sebelum Lebaran. “Kita sangat berharap masalah klasik tiap kali mudik Lebaran seperti infrastruktur jalan, kemacetan, transportasi, dan tiket mahal bisa teratasi,” katanya. Marwan melihat sejumlah ruas jalan seperti lintas Sumatera, khususnya yang dilalui pemudik, masih jauh dari harapan. Persoalan lain seputar mudik juga diungkap oleh Tulus Abadi, salah seorang Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Tulus Abadi menyesalkan dalam tiga tahun terakhir ini terjadi penurunan drastis angkutan bus kelas ekonomi. “Bus ekonomi sangat minim, sekarang kelas bisnis dan eksekutif yang sering dijumpai di terminal. Kasihan rakyat miskin yang nggak bisa membeli tiket kelas bisnis atau eksekutif,” kata Tulus yang dimintai pendapatnya soal penyadiaan angkutan Lebaran. Sementara mengenai cara menekan angkat kecelakaan, dia menyarankan agar pemerintah harus benar-benar bersikap tegas kepada perusahaan angkutan bus. Misalnya, perusahaan harus menyiapkan minimal dua sopir karena perjalanan jauh pada malam hari sangat rawan. Tulus mengingatkan, pada mudik Lebaran 2008 ada 427 korban meninggal, sedangkan pada 2009 ada 800 korban meninggal akibat kecelakaan. |


