Berita Terbaru
RSS
23 Feb 2012
Ratapan Habibie Di Tengah Himpitan Neo Liberalisme PDF Cetak
Kamis, 02 Juni 2011 09:44

Ketika mantan Presiden BJ Habibie diundang rapat dengan Komisi I DPR untuk membahas Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista). Tiba-tiba semua hadirin dikejutkan dengan suara keras “Braakkk!!” Ahli pesawat terbang itu tiba-tiba menggebrak meja saat menyampaikan pendapatnya. "Kalau Anda mengimpor gelas (sambil mengangkat gelas di depannya), mengimpor meja (sambil menggebrak meja) dan mengimpor mic (sambil menunjuk microphone) maka Anda membayar jam kerja orang sana. Bayarlah jam kerja rakyat agar semua bisa mandiri!" ujar Habibie berapi-api di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (31/1/2011).

Jika industri pertahanan lokal tidak diutamakan, lanjut menristek era Orde Baru ini, maka generasi mendatang akan kasihan. Indonesia tidak bisa selamanya bergantung pada impor alat pertahanan. "Kita tidak bisa begini, karena awalnya industri pertahanan local ini adalah perjuangan. Jangan kualat," ucap pria 75 tahun ini. Dia menyebut, sejak tahun 2002 hingga sekarang, industri pertahanan Indonesia tidak pernah fokus. Habibie menilai, industri pertahanan Indonesia hanya memfokuskan keuntungan per generasi, dan yang dikejar bukan kemandirian tapi hanya keuntungan sesaat.

"Saya menyebutnya ini skenario VOC. Coba bandingkan dengan Amerika. Pembiayaan industri untuk kemandirian. Berbeda dengan kita, pengembangan teknologi tidak maju, karena yang dicari hanya keuntungan dolar Amerika saja. Saya orang tua tapi tidak buta," ucapnya dengan nada tegas.

Pada kesempatan lain di Yogyakarta, Habibie juga mengingatkan tentang kemungkinan Indonesia kehilangan daya saing dalam percaturan dunia. Penyebabnya sejumlah industri strategis dengan teknologi maju yang dimiliki bangsa ini, pelan-pelan malah dimatikan. Pada saat tampil sebagai pembicara pada acara Presidential Lecturer di UGM (26/5/11) ini, Habibie mengungkap bahwa industri pesawat terbang sebenarnya telah dirintis sejak tahun 1950. “IPTN tetah dipersiapkan sejak jaman Soekarno, tapi kemudian ditikam oleh IMF dan mati dalam sekejap”, ujarnya sedih.

Selain itu, mencermati maraknya pembangunan sejak 2008 hingga sekarang, Habibie menunjuk bahwa sector kontruksi mencatat peningkatan hingga 43%. “Tapi sayang kebanyakan yang dibangun adalah mall-mall untuk memajang produk-produk import dan masyarakat kita dibuat makin konsumtif”, sesalnya.

Keprihatinan Habibie, sebenarnya merupakan keprihatinan kita bersama. Tiadanya industri strategis yang bisa dijadikan unggulan, ditambah runtuhnya sektor agraris  yang menjadikan Indonesia sebagai Negara pengimpor bahan pangan, hanya akan menjadikan Indonesia sebagai pasar dan menjadikan rakyatnya sebagai pembeli produk impor. Mulai dari beras sampai produk berteknologi tinggi.

Situasi seperti inilah yang dimaui oleh rejim kapitalisme dunia melalui IMF, Bank Dunia dan lain-lain. Sebuah situasi yang menjadikan Negara berkembang sebagai bangsa kerdil yang menghamba pada Negara maju.

 
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com