Berita Terbaru
RSS
23 Feb 2012
Ilusi KHL ala Dewan Pengupahan PDF Cetak
Rabu, 02 November 2011 13:38

Hasil survei KHL dari Dewan Pengupahan, selalu lebih rendah dari hasil survei KHL yang dilakukan oleh organisasi buruh secara independen. Padahal mereka melakukan survei dengan metode yang sama dengan komponen survei yang sama pula. Bahkan tak jarang dilakukan pada pasar yang sama. Kenapa bisa beda? Menurut pengakuan Siti Umi Akhiroh, SH, anggota Dewan Pengupahan Provinsi DIY, hal itu disebabkan adanya tarik-menarik kepentingan dari masing-masing unsur yang ada di Dewan Pengupahan.

Unsur pengusaha selalu berusaha menjadikan hasil survei KHL Dewan Pengupahan serendah-rendahnya, sementara unsur buruh atau pekerja mengupayakannya setinggi mungkin. Namun dalam voting, unsur pekerja selalu kalah. Voting ini bukan saja dilakukan ketika akan menetapkan besaran KHL, tetapi juga teknis pengambilan sampel survei, baik mengenai waktu dan tempat.

Bagaimana trik unsur pengusaha dalam mengusahakan nilai KHL agar bisa ditekan serendah mungkin? Pertama, mereka menggunakan waktu siang hari ketika pasar mulai sepi dan akan bubar. Pada saat-saat seperti ini harga barang terutama untuk komponen sayur dan lauk banyak yang diobral.

Kedua, saat kompilasi data survei, dimasukkan berbagai rumus yang diistilahkan dengan rumus regresi, dengan maksud untuk merendahkan nilai hasil survei. Rumus ini merupakan serangkaian rumus matematika yang rumit dan susah dipahami, bahkan oleh sebagian anggota Dewan Pengupahan terutama yang berangkat dari unsur buruh atau pekerja.

Ketiga, hasil kompilasi data survei KHL tersebut, digodog lagi dengan memperhitungkan berbagai aspek misalnya kondisi perusahaan, tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, tingkat produktivitas, dan upah di wilayah-wilayah perbatasan. Nah, setelah melalui berbagai trik rumit ini, kemudian diadakan voting untuk menentukan besaran nilai KHL yang pasti. Dalam voting ini, unsur buruh atau pekerja pada Dewan Pengupahan, lagi-lagi kalah. Selanjutnya besaran nilai KHL hasil voting tersebut dijadikan rekomendasi oleh Dewan Pengupahan dan diusulkan kepada Kepala Daerah.

Mungkin benar kata pepatah, orang pintar makan orang bodoh, orang kuat makan orang lemah, dan orang kaya makan orang miskin.

 
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com