Berita Terbaru
RSS
21 May 2012
Geliat Fokkus Dalam Memperjuangkan Hak Kaum Difabel Di Surakarta PDF Cetak
Rabu, 18 Agustus 2010 01:59

FOKKUS berdiri sejak tahun 2007 lalu, berbarengan dengan adanya program pelatihan untuk komunitas difabel di Surakarta. Organisasi ini terbentuk atas dasar berbagai keprihatinan. Pertama, komunitas difabel banyak  yang mengalami kekecewaan dari pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan aspirasi kelompok difabel untuk kepentingan mereka.

Kedua, tidak terintegrasinya masing-masing kelompok yang ada di dalam komunitas difabel, dimana terdapat 5 kategori difabel yang masing-masing memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Dan ketiga, belum ada kebijakan lokal yang berpihak kepada kepentingan difabel.

Sejak bertemu dengan organizer PSB pada 2009 silam, saat ini FOKKUS telah banyak mengalami kemajuan. Diantaranya, kini FOKKUS telah berubah menjadi Serikat Pekerja yang tercatat pada Dinas Tenaga Kerja Surakarta. Adanya pencatatan ini dengan sendirinya telah meningkatkan posisi tawar FOKKUS kepada berbagai pihak.

Maka tidak mengherankan jika sejak tahun itu pula (2009) FOKKUS mulai dilibatkan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kota Surakarta. Berbagai masukan telah diberikan FOKKUS pada kesempatan itu, terutama masukan mengenai persoalan-persoalan difabel di Surakarta. FOKKUS menilai bahwa komunitas difabel adalah merupakan bagian dari rakyat pekerja, yang juga perlu berjejaring dengan elemen rakyat pekerja lain dalam perjuangannya.

“Saat ini FOKKUS masih terus melakukan perluasan dengan mengajak kontak-kontak di sector lain untuk berorganisasi ke dalam bentuk serikat pekerja”, demikian penjelasan Hermin, salah seorang pengurus FOKKUS kepada Solidaritas (25/7) lalu. Pada kesempatan itu pula Hermin mengungkapkan bahwa FOKKUS mendapat bantuan dana program dari Departemen Dalam Negeri RI sebesar 40 juta rupiah. “Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk set up koperasi FOKKUS”, ujarnya.

Langkah FOKKUS agaknya semakin mantap, terlebih karena rencana pengorganisasian federasi sudah jadi wacana bersama, dan semua anggota FOKKUS telah sepakat dengan hal itu. Ini semakin membuktikan bahwa berjuang bersama dalam wadah organisasi yang mandiri akan lebih efektif, ketimbang berjuang sendiri-sendiri. Bukankah Tuhan telah mengingatkan, bahwa Dia tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mau berusaha merubah nasibnya sendiri. Dan pengertian kaum disini adalah bermakna jamak, bukan tunggal.
 
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com